AD (728x90)

10/12/11

BEKAL PENUNTUT ILMU

Share it Please

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid

          Segala puji bagi Allah SWT semata, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada makhluk-Nya yang terbaik, nabi kitab Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba'du:
          Tidak disangsikan lagi bahwa menuntut ilmu memiliki adab-adab yang sangat banyak, dan konsekuwensi penuntut ilmu dengan meluruskan langkahnya, sama saja bersama gurunya atau teman-temannya, meringkaskan jalan baginya, membimbingnya menuju keberhasilan dan kesuksesan.
          Kebutuhan penuntut ilmu terhadap adab sama seperti kebutuhan jiwa terhadap udara. Dan dengan adab ia bisa memahami ilmu dan sekadar penghormatan murid terhadap gurunya, ia mengambil manfaat dari ilmunya.
          Syari'at yang suci sungguh mendorong untuk berhias diri dengan akhlak dan adab yang indah, dan menjelaskan bahwa ia adalah tanda ahli islam, dan sesungguhnya tidak bisa mencapai ilmu kecuali orang yang berhias dengan adabnya, menjauhi sifat keburuk nya. Karena hal inilah para ulama memberikan perhatian khusus terhadapnya dengan mengarang dan menyusun. Mereka menyampaikan (mentalqin) adab-adab tersebut kepada para muridnya di majelis ilmu. Maka bersambunglah kesungguhan mereka dari generasi ke generasi, dalam mewariskan ilmu, maka mereka mendapatkan berkahnya dengan duduk bersama ahlinya dan berhias diri dengan adabnya.
          Dan tatkala saya duduk bersama saudara saya Syaikh DR. Ibrahim bin Fahd al-Wad'an waffaqahullah, ia sedang mendengarkan kaset rekaman Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah yang mensyarahkan kitab 'Hilyatu Thalibi Ilm' karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, tiba-tiba ia berkata: sesungguhnya syarah (penjelasan) kitab ini cukup panjang dan hal itu tidak lain kecuali disebabkan besarnya kitab yang ia baca dan ia berharap agar diringkas supaya lebih mudah dipahami, agar pemula bisa mengambil faedah dan seorang alim pun tetap membutuhkannya. Maka pemikiran itu terus beredar dalam benakku untuk meringkas kitab ini agar mudah memahaminya dan santri (penuntut ilmu) bisa mengingat judul-judul utamanya hingga melekat dalam ingatannya, memahaminya sejak pertama mempelajarinya sehingga makin luas pemahamannya, berkembang kemampuannya dalam memahami terhadap kitab tersebut.
          Hal itu mendorong saya menulis ringkasan ini, sekadar mengingat yang alim terhadap apa yang telah dia capai dan memperingatkan para santri (penuntut ilmu) tentang sesuatu yang harus dia ketahui. Semoga Allah SWT memberi taufik kepada kita untuk memperoleh ilmu dan mengamalkannya serta menyampaikan agar kita mendapatkan ridha-Nya sebagai harapan terakhir.
Muhammad bin Fahd al-Wad'an
Riyadh, 10/05/1428 H.



PASAL PERTAMA
ADAB PENUNTUT ILMU DALAM DIRINYA SENDIRI

1.      Ilmu adalah ibadah:
          Dasar dari segala dasar dalam 'bekal', bahkan untuk segala perkara yang dicari adalah engkau mengetahui bahwa ilmu adalah ibadah, dan atas dasar itu maka syarat ibadah adalah:
1)   Ikhlas karena Allah SWT, berdasarkan firman Allah SWT: 
وَمَآ أُمِرُوْ~ا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ
          Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus,. (QS. al-Bayyinah:5)
Dan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Sesungguhnya segala amal disertai niat...'
Maka jika ilmu sudah kehilangan niat yang ikhlas, ia berpindah dari ketaatan yang paling utama kepada kesalahan yang paling rendah dan tidak ada sesuatu yang meruntuhkan ilmu seperti riya, sum'ah dan yang lain nya.
          Atas dasar itulah, maka engkau harus membersihkan niatmu dari segala hal yang mencemari kesungguhan menuntut ilmu, seperti ingin terkenal dan  melebihi teman-teman. Maka sesungguhnya hal ini dan semisalnya, apabila mencampuri niat niscaya ia merusaknya dan hilanglah berkah ilmu. Karena inilah engkau harus menjaga niatmu dari pencemaran keinginan selain Allah SWT, bahkan engkau menjaga daerah terlarang.
2)   Perkara yang menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat: yaitu cinta kepada Allah SWT dan rasul-Nya dan merealisasikannya dengan mutaba'ah dan mengikuti jejak langkah beliau.


2.      Jadilah engkau seorang salafi:
          Jadikanlah dirimu seorang salafi yang sungguh-sungguh, jalan salafus shalih dari kalangan sahabat radhiyallahu 'anhum dan generasi selanjutnya yang mengikuti jejak langkah mereka dalam semua bab agama dalam bidang tauhid, ibadah dan lainnya.

3.      Selalu takut kepada Allah SWT:
          Berhias diri dengan membangun lahir dan batin dengan sikap takut kepada Allah SWT, menjaga syi'ar-syi'ar islam, menampakkan sunnah dan menyebarkannya dengan mengamalkan dan berdakwah kepadanya.
          Hendaklah engkau selalu takut kepada Allah SWT dalam kesendirian dan bersama orang banyak. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang takut kepada Allah SWT, dan tidak takut kepada-Nya kecuali orang yang berilmu. Dan jangan hilang dari ingatanmu bahwa seseorang tidak dipandang alim kecuali apabila ia mengamalkan, dan seorang alim tidak mengamalkan ilmunya kecuali apabila ia selalu takut kepada Allah SWT.

4.      Senantiasa muraqabah:
          Berhias diri dengan senantiasa muraqabah kepada Allah SWT dalam kesendirian dan kebersamaan, berjalan kepada Rabb-nya di antara sikap khauf (takut) dan raja` (mengharap), bagi seorang muslim kedua sifat itu bagaimana dua sayap bagi burung.

5.      Merendahkan diri dan membuang sikap sombong dan takabur:
          Hiasilah dirimu dengan adab jiwa, berupa sikap menahan diri dari meminta, santun, sabar, tawadhu terhadap kebenaran, sikap tenang dan rendah diri, memikul kehinaan menuntut ilmu untuk kemuliaan ilmu, berjuang untuk kebenaran. Jauhilah sikap sombong, sesungguhnya ia adalah sikap nifak dan angkuh. Salafus shalih sangat menjauhi sikap tercela tersebut.
          Jauhilah penyakit sombong, maka sesungguhnya sikap sombong, tamak dan dengki  adalah dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah SWT. Sikap congkakmu terhadap gurumu adalah sikap sombong. Sikap engkau meremehkan orang yang memberi faedah kepadamu dari orang yang lebih rendah darimu adalah sikap sombong. Kelalainmu dalam mengamalkan ilmu merupakan tanda kesombongan dan tanda terhalang.

6.      Qana'ah dan zuhud:
          Berbekal diri dengan sikap qana'ah (merasa cukup dengan yang ada) dan zuhud. Hakikat zuhud adalah: Enggan terhadap yang haram, menjauhkan diri dari segala syubhat dan tidak mengharapkan apa yang miliki orang lain. Dan atas dasar itulah, hendaklah ia sederhana dalam kehidupannya dengan sesuatu yang tidak merendahkannya, di mana dia dapat menjaga diri dan orang yang berada dalam tanggungannya, dan tidak mendatangi tempat-tempat kehinaan.

7.      Berhias diri dengan keindahan ilmu:
          Diam yang baik dan petunjuk yang shalih berupa ketenangan, khusyuk, tawadhu', tetap dalam tujuan dengan membangun lahir dan batin dan meninggalkan yang membatalkannya.

8.      Berbekal diri dengan sikap muru`ah:
          Berbekal diri dengan sikap muru`ah dan yang membawa kepadanya berupa akhlak yang mulia, bermuka manis, menyebarkan salam, sabar tergadap manusia, menjaga harga diri tanpa bersikap sombong, berani tanpa sikap fanatisme, bersemangat tinggi bukan atas dasar kebodohan.
          Oleh karena itu, tinggalkanlah sifat yang merusak muru`ah (kesopanan) berupa pekerjaan yang hina atau teman yang rendah seperti sifat ujub, riya, sombong, takabur, merendahkan orang lain dan berada di tempat yang meragukan.

9.        Bersikap jantan termasuk sikap berani.
          Keras dalam kebenaran dan akhlak yang mulia, berkorban di jalan kebaikan sehingga harapan orang menjadi terputus tanpa keberadaanmu.
          Atas dasar itu, hindarilah lawannya berupa jiwa yang lemah, tidak penyabar, akhlak yang lemah, maka ia menghancurkan ilmu dan memutuskan lisan dari ucapan kebenaran.

10.       Meninggalkan kemewahan:
          Jangan terlalu berlebihan dalam kemewahan, maka sesungguhnya 'kesederhanaan termasuk bagian dari iman', ingatlah wasiat Umar bin Khathab RA: 'Jauhilah kenikmatan, pakaian bangsa asing, dan bersikaplah sederhana dan kasar...'
          Atas dasar itulah, maka jauhilah kepalsuan peradaban, sesungguhnya ia melemahkan tabiat dan mengendurkan urat saraf, mengikatmu dengan benang ilusi. Orang-orang yang serius sudah mencapai tujuan mereka sedangkan engkau tetap berada di tempatmu, sibuk memikirkan pakaianmu...
          Hati-hatilah dalam berpakaian karena ia mengungkapkan pribadimu bagi orang lain dalam berafiliasi, pembentukan dan perasaan.  Manusia mengelompokkan engkau dari pakaianmu. Bahkan, tata cara berpakain memberikan gambaran bagi yang melihat golongan orang yang berpakaian berupa ketenangan dan berakal, atau keulamaan atau kekanak-kanakan dan suka menampilkan diri.
          Maka pakailah sesuatu yang menghiasimu, bukan merendahkanmu, tidak menjadikan padamu ucapan bagi yang berkata (maksudnya, orang lain tidak memberikan komentar, pent.) dan ejekan bagi yang mengejek.
          Jauhilah pakaian kekanak-kanakan, tidak berarti kamu memakai pakaian yang tidak jelas, akan tetapi sederhana dalam berpakaian dalam gambaran syara', yang diliputi tanda yang shalih dan petunjuk yang baik.

11.    Berpaling dari majelis yang sia-sia:
          Janganlah engkau berkumpul dengan orang-orang yang melakukan kemungkaran di majelis mereka, menyingkap tabir kesopanan. Maka sesungguhnya dosamu terhadap ilmu dan pemiliknya sangat besar.

12.       Berpaling dari kegaduhan
          Memelihara diri dari keributan dan kegaduhan, maka sesungguhnya berada atau suka dalam sebuah kegaduhan atau keributan bertentangan dengan adab menuntut ilmu.

13.       Berhias dengan kelembutan:
          Hendaklah selalu lembut dalam ucapan, menjauhi kata-kata yang kasar, maka sesungguhnya ungkapan yang lembut menjinakkan jiwa yang membangkang.

14.       Berpikir:
          Berhias dengan merenung, maka sesungguhnya orang yang merenung niscaya mendapat, dan dikatakan: renungkanlah niscaya engkau mendapat.

15.       Teguh dan kokoh:
          Berhiaslah dengan sikap teguh dan kokoh, terutama di dalam musibah dan tugas penting. Dan di dalamnya: sabar dan teguh di saat tidak bertemu dalam waktu yang lama dalam menuntut ilmu dengan para guru, maka sesungguhnya orang yang teguh akan tumbuh.

see also:
Pasal Ke-2 
Pasal Ke-3 
Pasal Ke-4 
Pasal Ke-5 
Pasal Ke-6 
Pasal Ke-7 

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 comments:

Posting Komentar

© 2013 Mister. All rights resevered. Designed by Templateism